Selasa, 01 September 2009

KERJA TURBO PADA MOBIL EVO 8

http://www.youtube.com/watch?v=lYLCRuoMe74

CARA KERJA MESIN ROTARY

Pada Mazda RX-7 ini dipakai dua rotor, sedangkan pada produk mobil yang lain yang juga pernah diproduksi oleh Mazda yaitu Unos Cosmo memakai tiga rotor, produk Unos Cosmo sendiri sudah tidak diproduksi lagi.
Selain aplikasi rotary engine pada sistem mobil, aplikasi yang pernah dilakukan juga meliputi mesin speed-boat, pembangkit listrik, snow mobil, mesin industri pabrik dsb. Selain pembakaran dengan sistem cetus api, sistem diesel rotary engine juga menjadi salah satu penerapan mesin ini, tetapi karena pembakaran diesel memerlukan tekanan yang tinggi, dipakai dua step ruang bakar. Metoda ini pernah dicoba oleh Roll Royce dengan dua buah rotor dalam satu housing, masing-masing rotor untuk tekanan rendah dan rotor untuk tekanan tinggi. Udara yang dimampatkan dengan rotor tekanan rendah, diarahkan ke rotor tekanan tinggi. Lalu pada ruangan untuk rotor tekanan tinggi ini diinjeksi kan bahan bakar sehingga reaksi pembakaran diesel bisa terwujud.

Mesin rotari lebih ringan daripada mesin konvensional yang menggunakan piston. Pada mesin konvensional, gerak vertikal, gerak horizontal, atau gabungan antara keduanya (pada mesin yang berkonfigurasi V) diubah menjadi gerak putar sebelum disalurkan ke roda. Dan, perubahan gerak itu membuat mesin konvensional memerlukan lebih banyak komponen sehingga bobotnya lebih berat. Belum lagi perubahan gerak itu membuat daya yang dihasilkan mesin banyak berkurang. Pada mesin rotari, mesin bekerja dengan gerak putar sehingga mesin lebih ringan karena komponen yang diperlukan tidak banyak dan tidak ada daya yang terbuang sebelum disalurkan ke roda.
Keunggulan mesin rotari adalah menghasilkan performa yang ekstra kuat dari kapasitas mesin yang secara relatif kecil, putaran mesin yang tinggi (sampai 9.200 putaran per menit), dan bobot mesin yang ringan. Pembatas kecepatan, yang ditandai dengan bunyi berdesing, akan bekerja pada 8.500 putaran mesin per menit (rpm). Namun, 8.500 rpm itu dapat dilampaui dengan mudah, tanpa harus menyiksa mesin yang putaran maksimumnya 9.200 rpm
cara kerja rotary engine:

CARA KERJA TURBO CHARGER

Turbocharger menjadi alternatif terbaik untuk meningkatkan daya kuda yang bisa dihasilkan mesin, tanpa harus menambah bobot mobil. Selain itu, ukurannya yang kompak dan proses pemasangannya yang sederhana, membuat turbo juga populer di aftermarket.



Perangkat ini banyak digunakan mesin diesel maupun mobil performance. Di Indonesia, banyak model yang menawarkan perangkat ini, seperti Isuzu Panther, Ford Ranger, Mitsubishi L200 Strada dan Kia Carnival.

Prinsip kerja turbo, mengkompresi udara ke mesin untuk meningkatkan jumlah molekul oksigen yang masuk ke silinder. Tingginya molekul oksigen yang masuk mendorong tambahan pasokan BBM. Dengan demikian, lebih banyak BBM yang dibakar, hingga daya yang diproduksi meningkat.

Tekanan udara yang dikompresi bisa meningkat hingga 8 psi (pounds per square inch) dibandingkan tekanan normal. Bila tekanan normal di permukaan laut sebesar 14.7 psi, maka udara yang dikompresi mempunyai tekanan hingga 50% lebih tinggi. Namun tidak berarti power yang dihasilkan meningkat 50%. Karena ada sebagian daya yang hilang/inefisiensi. Peningkatan daya optimal turbo bisa 30 – 40 persen lebih banyak.

Untuk melakukan kompresi, turbo memanfaatkan aliran gas buang dari mesin untuk memutar turbin, yang meneruskan putaran ke kompresor udara. Turbin ini bisa berputar hingga 150,000 putaran tiap menit (rpm) atau 30 kali putaran mesin mobil pada umumnya. Temperatur perangkat ini juga bisa melesat naik, ketika bersentuhan dengan gas buang. Dengan kondisi kerja seperti itu, turbo membutuhkan material berkualitas tinggi dengan pengerjaan super presisi.

Perangkat turbo dipasang pada exhaust manifold, sedangkan kompresor udara diletakkan diantara air filter dan intake manifold. Udara yang dikompresi, suhunya naik dan ketika suhu naik, udara akan memuai lagi. Akibatnya, meskipun tekanan udara yang masuk ruang bakar tinggi, tapi jumlah molekul udara yang dibutuhkan untuk pembakaran menjadi berkurang. Oleh karena itu, maka ditambahkan perangkat intercooler yang berfungsi menurunkan suhu udara kompresi.

Di sisi lain, penggunaan turbo juga menimbulkan kerugian pada mesin. Pemasangan turbin membuat aliran gas buang menjadi tidak lancar. Mesin juga harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melawan tekanan balik dari saluran gas buang.

Selain itu gejala knocking/nglitik juga sering ditemui. Ini disebabkan karena udara kompresi yang bersuhu tinggi ketika masuk ke ruang bakar yang bertekanan tinggi, bisa memicu pembakaran sebelum busi memercikkan api. Oleh karena itu, mobil dengan perangkat turbo seringkali membutuhkan BBM dengan oktan tinggi, guna menghindari gejala knocking. Kini mesin-mesin modern yang dilengkapi turbo, sudah dilengkapi semacam adjuster yang bisa menyesuaikan kompresi udara secara presisi sesuai kebutuhan mesin.

Problem lain yang sering ditemui mobil dengan perangkat turbo adalah turbo lag. Kondisi ini terjadi karena turbo tidak bisa seketika menghadirkan tambahan daya saat gas ditekan (turbo baru bekerja pada putaran tertentu). Baru beberapa detik kemudian tambahan daya bekerja, ditandai dengan melonjaknya mobil ke depan.

Cara untuk meminimalkan efek ini adalah memangkas bobot komponen yang berputar. Ini membuat turbin dan kompresor lebih mudah berakselerasi untuk melakukan kompresi. Cara lainnya, dengan menggunakan material baru seperti ceramic turbine blades. Material baru ini lebih ringan dari baja, hingga lebih mudah berputar Efek ini nyaris tidak terasa pada mesin dengan teknologi turbo modern.

Kebanyakan turbocharger memiliki wastegate, semacam katup pengaman yang memungkinkan gas buang menerobos keluar tanpa melewati turbin. Katup ini bekerja berdasarkan sensor tekanan. Bila tekanan udara terlalu tinggi, berarti turbin berputar terlalu cepat, maka exhaust gas dibuang lewat wastegate, hingga rotasi turbin melambat.

Karena turbo bekerja pada kondisi temperatur, kecepatan dan tekanan tinggi, maka peforma optimum bisa didapat jika alat ini dioperasikan dan dirawat dengan benar. Kerusakan yang sering terjadi biasanya akibat buruknya lubrikasi, atau masuknya partikel abrasif pada oli. Sebab lain adalah lolosnya partikel berukuran besar pada aliran udara yang tersedot masuk. Juga benda-benda yang tersembur keluar dari exhaust, seperti kerak karbon, serpihan komponen mesin, dll berperan menimbulkan kerusakan.

Agar turbo bekerja sempurna, maka;



Turbo harus di service sesuai rentang waktu yang direkomendasikan.

Gunakan selalu oli yang direkomendasi produsen mobil

Pilih bengkel yang benar-benar ahli dalam perawatan turbo

Periksa setiap kebocoran oli, suara-suara ‘aneh’ dan getaran yang tidak wajar.

Power kurang, suara keras, asap biru atau hitam, kemungkinan mengindikasikan masalah pada mesin, bukan turbo

Panaskan mesin beberapa saat, tunggu temperatur oli mesin mencapai suhu kerja optimal sebelum menggenjot pedal gas dalam-dalam untuk mengaktifkan turbo. Jangan memainkan pedal gas, karena kemungkinan lubrikan komponen turbo belum sempurna. Sebaliknya, biarkan mesin idle beberapa saat sebelum mesin dimatikan. Bila mesin dimatikan seketika, maka pasokan oli mesin ke turbo otomatis terhenti, sementara turbo masih berputar dengan kecepatan tinggi. Ini bisa menciderai bearing. Pada mesin-mesin dengan teknologi turbo terbaru, ‘ritual’ seperti itu tidak perlu lagi.